Waktu itu, aku mempersiapkan diri untuk mengambil hasil dari perjuanganku selama 3 tahun di SMA. Setibanya aku disekolah, kami harus menunggu sampai nama kami satu persatu dipanggil untuk melihat isi amplop kami masing masing, rasa dek-dekan pasti ada dalam diri kami masing masing. Setelah nama ku dipanggil, aku mulai maju dan mengambil amplopku. Ketika aku membukanya aku sangat sangat terkejut, aku bisa LULUS bahkan peringkatku naik. Padahal jujur aku akui, aku orang yang begitu malas mencatat bahkan mengerjakan soal soal.
Setelah beberapa saat berlalu, aku mempersiapkan segala keperluanku untuk mengikuti tes memasuki Perguruan Tinggi Negeri, sampai pada saatnya aku harus berangkat ke Kota dimana aku harus menuntut ilmu. Dan hari berganti hari, setelah tiba saatnya pengumuman. Dengan segera aku membuka tautan yang sudah diberitahukan untuk membuka hasil seleksi. Dengan sangat sangat terkejut aku melihat hasil itu, dan ternyata aku TIDAK LULUS. Batinku mulai tertegun, aku terus saja mengoreksi diriku. Apa yang salah dengan diriku? Masalalu ku kah? Semua aktivitasku yang begitu padat kah? Kemalasanku kah?
Saat Ayahku pulang dari kantor, dengan terpaksa aku harus menceritakan tentang ketidaklulusanku ini. Dan ternyata aku harus memakan amarah dari Ayahku, banyak sekali cacian yang harus aku terima. Satu kalimat yang selalu aku ingat yang keluar dari bibir mulut Ayahku, Dia malu memiliki anak seperti aku. Kalimat itu yang selalu terngiang di telingaku sampai saat ini.
Karena ulahku ini, Ibuku serta saudaraku juga terkena dampaknya. Yang terlintas diotakku adalah aku harus mencari cara agar keluargaku kembali harmonis, dan selalu berdiri dijalannya Tuhan.
Dengan bodohnya, aku ingin mengakhiri nyawaku. Banyak cara yang aku lakukan. Aku meminum semua jenis obat, agar aku bisa overdosis. Aku mencari waktu luang agar aku bisa menyayat nadiku. Tapi itu semua percuma, Tuhan melihat segala perkara yang aku tanggung. Tuhan menyediakan banyak sekali kebaikan melalui teman-temanku. Banyak yang menasihati ku.
Aku terus saja merasa, hidupku tidak berguna lagi jika aku terus saja menghembuskan nafas. Didalam rumah aku memiliki masalah, diluar rumah juga aku memiliki masalah. Temanku yang aku kenal sejak aku duduk di Taman Kanak-Kanak begitu tega mengkhianatiku, menghancurkan hidupku dengan temanku yang lainnya. Dia tega mengadu domba pertemanan kami.
Apa yang harus aku perbuat? Kenapa Tuhan mempercayakan perkara besar ini untuk aku tanggung?
Salah seorang temanku yang bernama Rudi.T. sempat menasihatiku untuk menulis mimpiku disebuah kertas kosong dan setiap saat aku harus memandang kertas itu agar aku selalu ingat dan bisa meraih mimpiku. Tapi? Apa bisa aku meraih mimpiku? Bisakah Tuhan adil terhadapku? :')